- Kisah Nabi ISA AS
- Kisah Aisyah Binti Abu Bakar Rha
- Kisah Maimunah Binti Al-Harits Rha
- Kisah Juwairiyah Binti Al-Harits Rha
- Kisah Zainab Binti Jahsy Rha
- Kisah Siti Khadijah Khuwailid Rha
- Kisah Saudah Binti Zamah Rha
- Kisah Hafsoh Binti Umar Rha
- Kisah Shafiyyah Binti Huyai Rha
- Kisah Ummu Salamah Rha
- Kisah Ummu Habibah Rha
- Kisah Abdullah Bin jafar
- Kisah Hasan Ra, Husein Ra, dan Abdullah Bin Jafar Ra
- Kisah Syeikh Malik Bin Dinnar Rah
- Kisah Imam Ahmad Bin Hambal Rah
- Kisah Imam Abu Hanifah Rah
- Kisah Imam Malik Rah
- Kisah Imam Muslim Rah
- Kisah Imam Al-Bukhari Rah
- Kisah Imam Syafi'i Rah
- Kisah Syeikh Maulana Ilyas
- Kisah Syeikh Muhammad Zakaria
- Jalan tobat sang rocker
- Kapolda Berdakwah Polisi dapat hidayah
- Kisah Cat Steven AKA
- Kisah HENGKI TORNANDO
- Anton Medan, Mantan Rampok & Bandar Judi yang Jadi Da'i
- Kisah Pentolan Grup Metal "Irvan Rotor"
- Sakti eks Gitaris So7 ganti nama Islami dan kembali bermusik
- Perjalanan Religi Sakti So7
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Kamis, 22 Desember 2011
Kisah Inspiratif
Selasa, 28 Desember 2010
Anton Medan : Mantan Rampok dan Bandar Judi yang jadi Da'i
Mantan Rampok dan Bandar Judi yang Jadi Da'i
TAN HOK LIANG adalah nama asli Anton Medan. Ia lahir di Tebing Tinggi, Sumatera Utara 1 Oktober 1957. Di usia 8 tahun, ia harus berhenti sekolah karena permintaan ibunya untuk membantu berjualan kue. Ia hanya mengenyam bangku Sekolah Rakyat (SD, red) selama 7 bulan, dan belum bisa membaca dan menulis.
Menginjak usia 12 tahun, Kok Lien (panggilan kecilnya) menjadi anak terminal Tebing Tinggi, menjual jasa mencarikan penumpang bagi sopir. Kok Lien dikenal rajin. Banyak sopir terminal senang dan memanggilnya Cina Tongkol (Cintong).
Tapi tak semua sopir menghargai kerja kerasnya. Suatu ketika ada seorang sopir tidak memberinya upah. Kok Lien protes. Tapi sopir itu malah marah. Terjadilah perang mulut. Tak sabar, Kok Lien mengambil sebuah balok kayu dan menghantam sekuat tenaga. Sopir itu pun tersungkur. Kok Lien lari. Tapi polisi menangkapnya.
Tahun 1970 Kok Lien merantau ke Terminal Amplas Medan. Usianya baru 13 tahun. Di Medan ia bekerja sebagai pencuci bus. Seperti di terminal Tebing Tinggi, ia dikenal rajin. Dalam satu hari ia bisa membersihkan 3-5 badan bus yang berdebu.
Seolah tak putus dirundung masalah, di terminal ini uangnya dicuri. Menyadarinya Kok Lien gelagapan. Setelah dilidiki, ia menemukan pencurinya dan menegurnya. Tapi si pencuri malah marah dan memukulnya. Orang-orang berdatangan, tapi tak ada yang melerai. Di saat tersudut, Kok Lien melihat sebilah kapak bergerigi yang biasa digunakan membilah es, tergeletak tak jauh darinya. Secepatnya ia ambil dan menghunjamkannya ke wajah lawannya. Seketika lawannya roboh. Kok Lien lalu ditangkap polisi dan dipenjara selama 4 tahun di LP Tiang Listrik, Medan.
Menginjak usia 17 tahun Kok Lien bebas. Ia gembira dan segera pulang, melepas rindu kepada keluarga. Tapi sayang, sampai di rumah ibunya hanya memberi waktu 2 jam untuk melepas rindu. Ibunya malu kepada tetangga. Dengan berat hati, Kok Lien melangkah pergi.
Di tengah kegalauan, ia ingat pamannya yang ada di Jakarta. Ia ingin menjumpainya dan meminta bantuan mencari pekerjaan. Tapi sayang, ia tidak tahu alamat persisnya. “Saya tak tahu alamatnya, tapi saya nekad ke Jakarta,” katanya.
Tiba di Jakarta, harapan yang ia pupuk selama perjalanan hancur berantakan. Kurang lebih 7 bulan ia mencari rumah pamannya. Tapi setelah bertemu, ternyata pamannya tidak mengakuinya sebagai kemenakan. Malah menistakannya. Begitu pun adiknya. Ia tercampakkan. Ia kecewa. Di tengah kekecewaan yang mendalam, ia bertemu kenalannya di simpang jalan yang berpenampilan parlente. Temannya baru saja menjambret. Mendengar cerita temannya, ia tertarik. Akhirnya, ia menjual celana kesayangannya demi sebuah pisau. Dengan pisau itulah ia mulai menjambret dan berhasil.
Mulai saat itu kehidupan Kok Lien berubah. Ia sudah memilih kejahatan sebagai profesi. Senjatanya tak sekedar pisau, tapi pistol. Ia pun terkenal sebagai penjahat kelas kakap dan paling dicari di Jakarta dengan nama Anton Medan!
Perjalanan hidup Anton Medan tak sekedar menjadi penjahat profesional. Ia menjadi bandar judi setelah meruntuhkan kekuasaan bandar judi besar bernama Hong Lie. Sebagai bandar judi, pendapatannya satu malam mencapai puluhan juta. Ia menikmati gaya hidup mewah. Tapi ironisnya, kekayaan itu habis pula di dunia judi. Ia frustasi, dan sebagai pelampiasannya justru bermain judi di Genting, Makau, Chistmas, Hongkong maupun Las Vegas. Ia kalah milyaran rupiah. Dalam kebangkrutan itu, ia menemukan hikmah kehidupan yang sangat mendasar. Sejak itulah ia mendalami Islam secara sungguh-sungguh, bahkan di kemudian hari dikenal sebagai da’i.
Mencari Tuhan di Penjara
Sebelum reformasi 1998, mengenai adanya situasi keterbukaan masih jauh dari angan-angan. Tetapi pada masa itu, tahun 1996/1997, Anton Medan sudah mengungkapkan kondisi LP (Lembaga Pemasyarakatan) dengan sangat blak-blakan.
Dia termasuk salah satu pelopor percepatan pentingnya keterbukaan. Cermati fakta-faktanya. Di dalam LP ia belajar membaca dan menulis, dan dalam waktu satu minggu sudah bisa membaca koran.
Di dalam LP pun Anton Medan mencari Tuhan. Berkali-kali pindah agama, dan kini ia adalah seorang juru dakwah terkenal, pemilik/pengasuh sebuah pondok pesantren yang menyelenggarakan pendidikan berbasis kewirausahaan untuk SMP dan SMA. Betapa penting mengenali sosok manusia macam ini, yang ternyata dulu sekeluar dari penjara Kuningan, ia mengalami ancaman akan dibunuh “secara misterius” pun diterimanya secara langsung, tetapi dengan satu syarat, dan manakala syarat tersebut dipenuhinya, malah berdampak lanjut dirinya terseret dan masuk ke dalam dunia mafia.
Lebih jauh, seperti yang tertulis dalam biografi Anton Medan; Pergolakan Jiwa Seorang Mantan Terpidana, buah karya S Budhi Raharjo, selepas menetapkan pilihan Islam, ia dipercaya sebagai ketua RW di kampungnya. Sebagai abdi masyarakat, ia bekerja sunguh-sunguh. Bahkan ketika harus berhadapan dengan lurah yang diskriminatif terhadap warganya, ia bersedia melawan dan merelakan jabatan ketua RW yang ia sandang. Atas kesediaan berkorban ini, masyarakat di sekelilingnya makin simpatik padanya.
Demikianlah perjalanan hidup Anton Medan: bila dulu ia dibenci dan dihujat masyarakat, tapi sekarang ia dicintai masyarakat. (int)
Anton Medan Bersyahadat di depan Sopir Pribadinya
Enaknya dipanggil apa Ustadz? Pak Anton, ustadz Anton, atau ustadz Ramdhan Effendi?” Tanya Alhikmah. “Panggil Anton Medan,” jawabnya tegas. Siapa tak kenal Anton Medan?
Mantan penjahat kelas kakap yang menjadi dai, setelah cahaya Islam menyentuh kalbunya. Kini, selain berbisnis baligho dan spanduk, Anton mengelola tiga pondok pesantren yang semuanya dilabeli Pondok Pesantren At Taibin. Salah satunya bertempat di Jl. Kampung Sawah Rt 02/08 Kp. Bulak rata, Kelurahan Pondok Rajeg, Cibinong Bogor.
Anton kecil lahir 52 tahun silam, tepatnya 1 Oktober 1957 di Tebing Tinggi, Sumatera Utara, dengan nama Cina Tan Kok Liong. “Tan itu marga. Kok itu artinya bangsa. Liong adalah kesuksesan,” jelas Anton kepada Alhikmah.
Anton anak ke-2 dari 17 bersaudara. Ia lahir dari pasangan Usman Effendi (Tan Beng Kiat) dan Teti (Si Abo). Menjelang umur 8 tahun, orang tua Anton mendaftarkannya ke Sekolah Rakyat (SR), jenjang pendidikan setingkat SD saat itu. Namun, hanya sekitar 7 bulan Anton kecil bisa bersekolah. Orang tuanya tak sanggup membiayai pendidikan Anton lebih lanjut.
Sejak itu, Anton belajar menjadi tulang punggung keluarga. Modal uang jelas tak ada. Mengandal ijazah pendidikan, ia pun tak punya. Hanya tekad dan kemauan keras yang membuatnya bertahan. Pekerjaan kasar Anton lakoni, demi memenuhi kebutuhan pokok keluarga besarnya.
Di usia 12 tahun, Anton memulai perjalanan panjangnya. Ia keluar dari rumah, merantau, dan mengais rezeki di Terminal Tebing Tinggi. Ia bekerja sebagai calo, mencari penumpang untuk bis-bis yang beroperasi di terminal itu.
Satu hari, Anton berhasil mengisi sebuah bis yang menjadi langganannya dengan banyak penumpang. Tapi Anton heran, dirinya tidak mendapatkan upah. Saat itu yang menggelayut di benaknya adalah bayangan Ibu, kakak, serta adik-adiknya yang masih kecil. Keluarga yang selalu menantikan kiriman uang dari hasil kerja keras Anton.
Anton pun terlibat perang mulut dengan sang sopir bis. Tanpa sadar ia mengambil sebongkah balok dan menghantamkannya ke kepala sang sopir. Ini menjadi awal baginya berurusan langsung dengan pihak berwajib. Anton berkelit, membela diri karena merasa tak bersalah. Anton hanya ingin mendapatkan haknya yang dirampas sang sopir.
Sebenarnya, Anton muda ingin hidup wajar-wajar saja. Ia tidak ingin melanggar dan berurusan langsung dengan hukum. Namun, kejadian di Terminal Tebing Tinggi berulang. Kali ini di ibu kota Sumatera Utara, Medan. Anton yang beralih profesi sebagai pencuci bis, satu waktu mendapati tempat yang biasa ia jadikan sebagai penyimpanan uang telah sobek.
Ia menduga kejadian ini sengaja dilakukan. Benaknya mulai menerawang. Dugaan jatuh pada orang yang telah ia kenal. Meski demikian, Anton mencoba bersabar, dengan memeringatkan sang pelaku.
Namun, apa yang terjadi? Ia malah dikeroyok hingga babak belur, tanpa seorang temanpun membantu. Padahal orang yang memukulinya sudah dewasa dengan badan tinggi besar.
Anton kalap. Amarahnya memuncak. Diraihnya sebilah sambit parang bergerigi pembelah es, yang berada tak jauh darinya. Tanpa pikir panjang, ia pun membacok orang yang mengambil haknya. Lawan Anton tersungkur, tewas seketika.
Akibat insiden itu, dinginnya dinding penjara harus ia rasakan selama kurang lebih 4 tahun. Anton mendekam di penjara Jl. Tiang Listrik, Binjai. Medan, Sumatera Utara. sang Ibunda hanya menjenguknya sekali saja. Padahal saat itu Anton baru berumur 13 tahun. Usia yang masih belia untuk merasakan pengalaman pahit masuk bui.
Setelah bebas Anton pulang kampung. Ia tidak menyangka keluarga yang dulu ia nafkahi menolak kehadirannya. Keluarga Anton malu memiliki anak mantan narapidana. Selang beberapa jam di rumah, Anton memutuskan angkat kaki.
Terusir dari rumah, Anton memulai petualangannya di rimba Ibu Kota, Jakarta. Bermodalkan seribu rupiah, Anton menyeberangi Selat Sunda menggunakan KM Bogowonto. Tujuan pertama ke Jakarta adalah ingin menemui pamannya yang dianggap bisa membantu kesulitan dia.
Tak disangka, sang paman pun telah mendengar kabar pengalaman pahit yang Anton jalani. Sang paman tidak mau menerima Anton, untuk kedua kalinya Anton kecewa.
Berkenalan dengan dunia hitam
Kecewa oleh keluarga yang tak mau menerima kehadirannya, Anton membulatkan tekad menjadi penjahat. Anton memulainya dari hal-hal kecil seperti menjambret. Setelah bosan, Anton beralih dan merambah usaha penjualan obat-obat terlarang. Merasa tidak betah, Anton banting stir. Kali ini dunia judi yang ia selami.
Ternyata, di jagad bisnis haram nama Anton malah berkibar. Sejak 1985 hingga 1991, Anton begitu melegenda dalam bisnis terlarang itu. Anton mengatakan, sebenarnya ia hanya ingin hidup wajar. Akan tetapi, keadaan telah memaksa Anton melakukan semua ini. “Saya sebenarnya ingin hidup wajar. Tapi keadaan yang membuat saya seperti itu. Coba saya hidup di zamannya khalifah Umar bin Abdul Aziz, saya pasti gak akan pernah dipenjara,” ucapnya membela.
Anton yang telah menghabiskan 18 tahun 7 bulan hidupnya di penjara ini menambahkan, sebenarnya yang berbuat kejahatan yaitu masyarakat itu sendiri. “Yang mendorong kejahatan itu ya masyarakat itu sendiri. Apakah masyarakat pernah peduli dengan saudaranya yang mengalami kesulitan?” sesal Anton. Dulu, kata dia, banyak rekan-rekannya sesama narapidana yang melakukan tindak kejahatan karena terdorong himpitan hidup.
Menemukan Islam
Anton sejak lahir memeluk Budha. Agama yang telah dianut leluhurnya sejak lama. Anton memiliki perjalanan panjang tentang kisahnya berkenalan dengan Islam. Sebelum memeluk Islam, Anton terlebih dahulu hijrah ke agama Kristen. Di agama Kristen, Ia sempat bertahan 4 tahun.
Kedua agama itu membuat Anton tidak betah. Ia jengah, Budha dan Kristen tidak menghilangkan dahaganya akan pertanyaan tentang Ketuhanan dan implementasinya dalam kehidupan. “Agama yang benar itu logis. Sesuai dengan akal sehat manusia, dan tidak diskriminatif terhadap umatnya,” papar Anton.
Pernah suatu waktu Anton kecil bertanya pada ibunya saat hari raya umat Budha tiba. “Ibu, mengapa kita tidak merayakan di Klenteng?” Tanya Anton polos. Sang Ibu kemudian menjawab,”Jangan, Ibu malu dengan keadaan (miskin_red) kita nak,” sahut sang Ibu.
Begitu juga dengan Kristen. Anton menilai Bible tidak masuk akal. “Coba lihat Matius:46. Di sana dikisahkan ketika Yesus disalib ia berkata, Eli..Eli..Eli.. Lama sabakhtani. Yang artinya Tuhan, Tuhan, Tuhan, jangan tinggalkan aku. Masa Tuhan minta pertolongan sama Tuhan?” sanggahnya. “Tapi dalam Islam lihat Al Ikhlas, di sana sudah pasti,” tambah Anton.
Perkenalan Anton dengan Islam dimulai saat Ia mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang Jakarta, Anton mengenal napi dengan latar belakang tindak melawan hukum yang berbeda. Salah satunya adalah para napi yang dipenjara karena rezim otoriter Soeharto. Napi-napi tersebut adalah para aktivis mahasiswa yang tergabung dalam organisasi kemahasiswaan berbasis Islam.
Anton heran ketika memerhatikan mereka bisa hidup tenang seolah bukan di penjara. Anton menyimpulkan, ketenangan itu datang dari kalbu yang selalu disirami oleh sejuknya nilai-nilai ibadah. Anton mulai kepincut oleh Islam. Di sana ia mulai berdiskusi, membuka obrolan keIslaman dengan para napi yang ternyata aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). “Diantaranya Sofyan Panigoro dan Mukhtar Sindang,” kenang Anton.
Ternyata, dari Cipinang ia harus pindah. Anton dimutasi ke LP Kosambi, Cirebon. Di sana ia memelajari Islam dari salah seorang tokoh pergerakan berlatarbelakang Persis, bernama Oni, asal kota seribu santri, Tasikmalaya.
Karena banyak berdiskusi Anton mengalami keraguan. Kurang lebih tujuh tahun hatinya gundah. Setelah keluar dari penjara Anton tidak bisa menghilangkan kebiasaan barunya, untuk berdiskusi mengenai agama. Kini, sopir pribadinya yang mengaku Ahlussunnah waljamaah yang setia menjadi teman diskusi Anton.
Keraguan Anton memuncak, tatkala mengetahui keragaman pandangan pandangan di tubuh Islam. “Kok Islam banyak macamnya?” Kenang Anton.
Namun, Tuhan berkehendak lain. Pikiran Anton yang digelayuti keraguan mulai terbuka. Ia berusaha menyerap dan menggabungkan ajaran-ajaran Islam yang dipelajarinya. “Dari orang Muhammadiyah saya belajar mengenai Islam yang dikaitkan dengan sosial dan ekonomi. Dari Persis saya belajar mengenai hukum-hukum Islam. Dan dari sopir saya mengenai tata cara ibadah,” terangnya.
Banyak versi mengatakan Anton masuk Islam di penjara. Ada pula yang mengatakan Anton memeluk Islam dihadapan dan dibimbing langsung oleh KH. Zainuddin MZ. Tapi Anton membantah itu semua. “Saya mengucapkan dua kalimat syahadat di depan sopir pribadi saya, namanya ustadz Torehan” sanggahnya kepada Alhikmah.
Anton pun kemudian memilih nama Muhammad Ramdhan Effendi. Nama itu dipilih Anton, karena Muhammad adalah rasul mulia umat Islam. Ramdhan menjadi nama tengahnya karena ia memeluk agama Allah SWT, saat bulan Ramadhan di tahun 1992. Sedangkan Effendi adalah nama pribumi bapaknya.
Kini, dai yang sejak 1994 berdakwah dari penjara ke penjara itu memiliki kehidupan baru. Kehidupan yang dipenuhi ketenangan cahaya Islam. Anton yang telah berceramah ke 451 rutan dan LP di tanah air memiliki sebuah cita-cita mulia. “Saya berharap Allah SWT. memberikan kesempatan kepada saya untuk membina kader dakwah yang Insya Allah berkualitas dan dapat bermanfaat di masyarakat,” harap Anton menutup perbincangan./alhikmahonline.
Mantan penjahat kelas kakap yang menjadi dai, setelah cahaya Islam menyentuh kalbunya. Kini, selain berbisnis baligho dan spanduk, Anton mengelola tiga pondok pesantren yang semuanya dilabeli Pondok Pesantren At Taibin. Salah satunya bertempat di Jl. Kampung Sawah Rt 02/08 Kp. Bulak rata, Kelurahan Pondok Rajeg, Cibinong Bogor.
Anton kecil lahir 52 tahun silam, tepatnya 1 Oktober 1957 di Tebing Tinggi, Sumatera Utara, dengan nama Cina Tan Kok Liong. “Tan itu marga. Kok itu artinya bangsa. Liong adalah kesuksesan,” jelas Anton kepada Alhikmah.
Anton anak ke-2 dari 17 bersaudara. Ia lahir dari pasangan Usman Effendi (Tan Beng Kiat) dan Teti (Si Abo). Menjelang umur 8 tahun, orang tua Anton mendaftarkannya ke Sekolah Rakyat (SR), jenjang pendidikan setingkat SD saat itu. Namun, hanya sekitar 7 bulan Anton kecil bisa bersekolah. Orang tuanya tak sanggup membiayai pendidikan Anton lebih lanjut.
Sejak itu, Anton belajar menjadi tulang punggung keluarga. Modal uang jelas tak ada. Mengandal ijazah pendidikan, ia pun tak punya. Hanya tekad dan kemauan keras yang membuatnya bertahan. Pekerjaan kasar Anton lakoni, demi memenuhi kebutuhan pokok keluarga besarnya.
Di usia 12 tahun, Anton memulai perjalanan panjangnya. Ia keluar dari rumah, merantau, dan mengais rezeki di Terminal Tebing Tinggi. Ia bekerja sebagai calo, mencari penumpang untuk bis-bis yang beroperasi di terminal itu.
Satu hari, Anton berhasil mengisi sebuah bis yang menjadi langganannya dengan banyak penumpang. Tapi Anton heran, dirinya tidak mendapatkan upah. Saat itu yang menggelayut di benaknya adalah bayangan Ibu, kakak, serta adik-adiknya yang masih kecil. Keluarga yang selalu menantikan kiriman uang dari hasil kerja keras Anton.
Anton pun terlibat perang mulut dengan sang sopir bis. Tanpa sadar ia mengambil sebongkah balok dan menghantamkannya ke kepala sang sopir. Ini menjadi awal baginya berurusan langsung dengan pihak berwajib. Anton berkelit, membela diri karena merasa tak bersalah. Anton hanya ingin mendapatkan haknya yang dirampas sang sopir.
Sebenarnya, Anton muda ingin hidup wajar-wajar saja. Ia tidak ingin melanggar dan berurusan langsung dengan hukum. Namun, kejadian di Terminal Tebing Tinggi berulang. Kali ini di ibu kota Sumatera Utara, Medan. Anton yang beralih profesi sebagai pencuci bis, satu waktu mendapati tempat yang biasa ia jadikan sebagai penyimpanan uang telah sobek.
Ia menduga kejadian ini sengaja dilakukan. Benaknya mulai menerawang. Dugaan jatuh pada orang yang telah ia kenal. Meski demikian, Anton mencoba bersabar, dengan memeringatkan sang pelaku.
Namun, apa yang terjadi? Ia malah dikeroyok hingga babak belur, tanpa seorang temanpun membantu. Padahal orang yang memukulinya sudah dewasa dengan badan tinggi besar.
Anton kalap. Amarahnya memuncak. Diraihnya sebilah sambit parang bergerigi pembelah es, yang berada tak jauh darinya. Tanpa pikir panjang, ia pun membacok orang yang mengambil haknya. Lawan Anton tersungkur, tewas seketika.
Akibat insiden itu, dinginnya dinding penjara harus ia rasakan selama kurang lebih 4 tahun. Anton mendekam di penjara Jl. Tiang Listrik, Binjai. Medan, Sumatera Utara. sang Ibunda hanya menjenguknya sekali saja. Padahal saat itu Anton baru berumur 13 tahun. Usia yang masih belia untuk merasakan pengalaman pahit masuk bui.
Setelah bebas Anton pulang kampung. Ia tidak menyangka keluarga yang dulu ia nafkahi menolak kehadirannya. Keluarga Anton malu memiliki anak mantan narapidana. Selang beberapa jam di rumah, Anton memutuskan angkat kaki.
Terusir dari rumah, Anton memulai petualangannya di rimba Ibu Kota, Jakarta. Bermodalkan seribu rupiah, Anton menyeberangi Selat Sunda menggunakan KM Bogowonto. Tujuan pertama ke Jakarta adalah ingin menemui pamannya yang dianggap bisa membantu kesulitan dia.
Tak disangka, sang paman pun telah mendengar kabar pengalaman pahit yang Anton jalani. Sang paman tidak mau menerima Anton, untuk kedua kalinya Anton kecewa.
Berkenalan dengan dunia hitam
Kecewa oleh keluarga yang tak mau menerima kehadirannya, Anton membulatkan tekad menjadi penjahat. Anton memulainya dari hal-hal kecil seperti menjambret. Setelah bosan, Anton beralih dan merambah usaha penjualan obat-obat terlarang. Merasa tidak betah, Anton banting stir. Kali ini dunia judi yang ia selami.
Ternyata, di jagad bisnis haram nama Anton malah berkibar. Sejak 1985 hingga 1991, Anton begitu melegenda dalam bisnis terlarang itu. Anton mengatakan, sebenarnya ia hanya ingin hidup wajar. Akan tetapi, keadaan telah memaksa Anton melakukan semua ini. “Saya sebenarnya ingin hidup wajar. Tapi keadaan yang membuat saya seperti itu. Coba saya hidup di zamannya khalifah Umar bin Abdul Aziz, saya pasti gak akan pernah dipenjara,” ucapnya membela.
Anton yang telah menghabiskan 18 tahun 7 bulan hidupnya di penjara ini menambahkan, sebenarnya yang berbuat kejahatan yaitu masyarakat itu sendiri. “Yang mendorong kejahatan itu ya masyarakat itu sendiri. Apakah masyarakat pernah peduli dengan saudaranya yang mengalami kesulitan?” sesal Anton. Dulu, kata dia, banyak rekan-rekannya sesama narapidana yang melakukan tindak kejahatan karena terdorong himpitan hidup.
Menemukan Islam
Anton sejak lahir memeluk Budha. Agama yang telah dianut leluhurnya sejak lama. Anton memiliki perjalanan panjang tentang kisahnya berkenalan dengan Islam. Sebelum memeluk Islam, Anton terlebih dahulu hijrah ke agama Kristen. Di agama Kristen, Ia sempat bertahan 4 tahun.
Kedua agama itu membuat Anton tidak betah. Ia jengah, Budha dan Kristen tidak menghilangkan dahaganya akan pertanyaan tentang Ketuhanan dan implementasinya dalam kehidupan. “Agama yang benar itu logis. Sesuai dengan akal sehat manusia, dan tidak diskriminatif terhadap umatnya,” papar Anton.
Pernah suatu waktu Anton kecil bertanya pada ibunya saat hari raya umat Budha tiba. “Ibu, mengapa kita tidak merayakan di Klenteng?” Tanya Anton polos. Sang Ibu kemudian menjawab,”Jangan, Ibu malu dengan keadaan (miskin_red) kita nak,” sahut sang Ibu.
Begitu juga dengan Kristen. Anton menilai Bible tidak masuk akal. “Coba lihat Matius:46. Di sana dikisahkan ketika Yesus disalib ia berkata, Eli..Eli..Eli.. Lama sabakhtani. Yang artinya Tuhan, Tuhan, Tuhan, jangan tinggalkan aku. Masa Tuhan minta pertolongan sama Tuhan?” sanggahnya. “Tapi dalam Islam lihat Al Ikhlas, di sana sudah pasti,” tambah Anton.
Perkenalan Anton dengan Islam dimulai saat Ia mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang Jakarta, Anton mengenal napi dengan latar belakang tindak melawan hukum yang berbeda. Salah satunya adalah para napi yang dipenjara karena rezim otoriter Soeharto. Napi-napi tersebut adalah para aktivis mahasiswa yang tergabung dalam organisasi kemahasiswaan berbasis Islam.
Anton heran ketika memerhatikan mereka bisa hidup tenang seolah bukan di penjara. Anton menyimpulkan, ketenangan itu datang dari kalbu yang selalu disirami oleh sejuknya nilai-nilai ibadah. Anton mulai kepincut oleh Islam. Di sana ia mulai berdiskusi, membuka obrolan keIslaman dengan para napi yang ternyata aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). “Diantaranya Sofyan Panigoro dan Mukhtar Sindang,” kenang Anton.
Ternyata, dari Cipinang ia harus pindah. Anton dimutasi ke LP Kosambi, Cirebon. Di sana ia memelajari Islam dari salah seorang tokoh pergerakan berlatarbelakang Persis, bernama Oni, asal kota seribu santri, Tasikmalaya.
Karena banyak berdiskusi Anton mengalami keraguan. Kurang lebih tujuh tahun hatinya gundah. Setelah keluar dari penjara Anton tidak bisa menghilangkan kebiasaan barunya, untuk berdiskusi mengenai agama. Kini, sopir pribadinya yang mengaku Ahlussunnah waljamaah yang setia menjadi teman diskusi Anton.
Keraguan Anton memuncak, tatkala mengetahui keragaman pandangan pandangan di tubuh Islam. “Kok Islam banyak macamnya?” Kenang Anton.
Namun, Tuhan berkehendak lain. Pikiran Anton yang digelayuti keraguan mulai terbuka. Ia berusaha menyerap dan menggabungkan ajaran-ajaran Islam yang dipelajarinya. “Dari orang Muhammadiyah saya belajar mengenai Islam yang dikaitkan dengan sosial dan ekonomi. Dari Persis saya belajar mengenai hukum-hukum Islam. Dan dari sopir saya mengenai tata cara ibadah,” terangnya.
Banyak versi mengatakan Anton masuk Islam di penjara. Ada pula yang mengatakan Anton memeluk Islam dihadapan dan dibimbing langsung oleh KH. Zainuddin MZ. Tapi Anton membantah itu semua. “Saya mengucapkan dua kalimat syahadat di depan sopir pribadi saya, namanya ustadz Torehan” sanggahnya kepada Alhikmah.
Anton pun kemudian memilih nama Muhammad Ramdhan Effendi. Nama itu dipilih Anton, karena Muhammad adalah rasul mulia umat Islam. Ramdhan menjadi nama tengahnya karena ia memeluk agama Allah SWT, saat bulan Ramadhan di tahun 1992. Sedangkan Effendi adalah nama pribumi bapaknya.
Kini, dai yang sejak 1994 berdakwah dari penjara ke penjara itu memiliki kehidupan baru. Kehidupan yang dipenuhi ketenangan cahaya Islam. Anton yang telah berceramah ke 451 rutan dan LP di tanah air memiliki sebuah cita-cita mulia. “Saya berharap Allah SWT. memberikan kesempatan kepada saya untuk membina kader dakwah yang Insya Allah berkualitas dan dapat bermanfaat di masyarakat,” harap Anton menutup perbincangan./alhikmahonline.
Saya Tak Minta Masuk Surga
BALOI- Setiap kejadian yang menimpa anak manusia adalah ujian dari Allah SWT, termasuk warga binaan rumah tahanan (Rutan) Kelas IIA Batam, Baloi, yang saat ini sedang menjalani cobaan dan ujian hidup. Apa yang dijalan para narapidana (napi) saat ini harus menjadi motivasi dan hikmah dari setiap yang kita lakukan agar kelak bisa hidup lebih baik.
"Tak seorang pun bisa mengetahui nasib yang akan terjadi kelak kecuali berusaha menjadi lebih baik, agar kelak bisa menyongsong masa depan yang lebih baik. Intinya memacu diri dengan belajar dan mau berbuat serta doa dengan ikhlas," tutur Anton Medan dalam ceramahnya yang digelar di Rutan Batam, Selasa (21/9).
Pria yang pernah menjadi narapidana dalam kasus kriminal, mengisahkan berbagai perjalanan panjangnya hidupnya saat menghuni lembaga pemasyarakatan (Lapas). Karena tekad dan keinginannya yang besar, dia akhirnya memilih jalan hidup menjadi penceramah atau ustadz agar bermanfaat bagi orang lain.
Menjadi lebih baik tentunya tidak semudah membalik telapak tangan, penuh perjuangan dan tantangan. Kuncinya belajar dan belajar mendalami ilmu yang bermanfaat agar kelak bermanfaat bagi semua mahluk. Bahkan saat dia pergi menunaikan ibadah Haji ke Mekah dan 16 kali Umrah, yang dimintanya tidak ada lain hanya diberikan kesehatan dan hidup bermanfaat bagi orang lain.
"Saya tidak minta harta dan kekayaan juga tidak minta agar kelak masuk surga. Yang saya minta hanya agar hidup saya bisa bermanfaat bagi semua orang," ucapanya di hadapan ratusan warga binaan Rutan Batam, yang sepontan disambut riuh tepuk tangan dan ucapan Amin.
Dia menuturkan, apa yang dialaminya saat ini bisa terjadi pada siapa saja termasuk napi di Rutan Baloi, asalkan punya tekad dan niat mau mengasah diri dengan belajar dan terus belajar tanpa menyerah. Meski hidup di sebuah ruang terbatas tapi jangan membuatnya berkecil hati, justru di ruang terbatas ini seharus bisa menjadikan kita lebih berintropseksi diri untuk memacu kehidupan yang lebih baik kelak.
Penjara jangan dijadikan hambatan untuk berkarya dan mengasah diri agar terus belajar. Boleh saja fisik dan ruang gerak kita dibatasi, namun akal dan pikiran kita tak bisa dibatasi oleh apapun. Anton juga mengisahkan tentang sosok Soekarno Presiden RI pertama, dia pernah mengatakan penjara adalah universitas yang paling besar. Karena di dalam penjara dia bisa manfaatkannya untuk belar, dengan demikian bisa melahirkan karya-karya besar. Tokoh lainnya seperti Buya Hamka, di dalam penjara banyak melahirkan karya-karya tulisan yang sangat bermakna.
Begitu juga Nelson Mandela pejuang kemanusiaan berkulit hitam di Afrika Selatan, selama 27 tahun beliau dipenjara menjadi tahanan politik, tapi pikirannya terus diasah di balik jeruji besi. Berkat kegigihannya dalam berjuang dan belajar di dalam penjara, setelah keluar dia menjadi orang nomor satu di negara yang baru saja menggelar pesta Piala Dunia olah raga bergengsi, Juni lalu.
"Jangan menyerah dengan keadaan, ayo pacu untuk maju. Karena diri kita sendiri yang menentukan langkah kita selanjutnya. Allah SWT, sayang terhadap kita semua tanpa melihat perbedaan dan latarbelakang kita," ujarnya. Yang membedakan kita dengan mahluk lainnya adalah ketakwaan. Hanya ketakwaan kita yang berbeda di mata Tuhan.
Senada juga ditambahkan Joni Indo mantan napi yang juga sahabat karib Anton, dia mengatakan tak ada niat lain berceramah keliling Rutan dan Lapas di Indonesia, selain memberikan motivasi dan menyemangati para napi dan mantan napi. Bahwa mereka yang hidup di dalam Lapas dan Rutan juga bisa meraih masa depan yang lebih baik.
"Masih ada harapan itu, asal kita mau berusaha. Ingat Tuhan tidak pernah menutup pintau bagi hamba-Nya yang mau berbuat dan memperbaiki diri, Tuhan selalu memberikan jalan terbaik bagi hamba-hamba yang betobat," ungkapnya.
Diakuinya saat ini sudah 460 Rutan dan Lapas se-Indonesia dijelajahinya, bahkan ceramahnya itu hingga ke kampus-kampus. "Insya Allah dalam waktu dekat ini juga saya akan berikan ceramah di Malaysia," ujar Joni mengakhiri.
Jauhi Judi dan Narkoba
=======================
Selain ceramah di Rutan, Anton Medan juga ceramah dalam tabligh akbar dan halal bihalal di Masjid Al-Khoir, Perumahan Anggrek Mas Batam Centre, Senin (20/9) malam.
Mantan narapidana yang sering keluar masuk penjara ini
mengajak masyarakat Batam menjauhi judi. Sebab judi merupakan salah satu penyakit masyarakat yang membuat ekonomi keluarga menjadi hancur. Karena judi orang nekat merampok, membunuh dan menjadikan keluarga berantakan.
"Kita ingatkan kepada masyarakat Batam jangan bermain judi. Tidak ada orang yang kaya dari judi, dan tidak ada bandar judi yang merugi," ungkapnya..
Selain judi, dua penyakit sosial lain yang tumbuh subur di Batam, menurut Anton adalah pelacuran dan narkoba. Merajalelanya pelacuran yang merupakan penyakit sosial yang sangat tua di dunia ini, menjadi tanggung jawab pemerintah untuk memberantasnya.
Tidak ada cita-cita seseorang untuk menjadi pelacur, melainkan salah satunya akibat kemiskinan yang menimpa keluarganya. Kesejahteraan ekonomi masyarakat harus menjadi perhatian pemerintah untuk dapat memberantas merajalelanya pelacuran di Batam.
Begitupun dengan narkoba, yang dapat merusak masa depan para generasi muda. Tidak sedikit kasus-kasus narkoba yang terjadi di Batam, yang menunjukkan suburnya peredaran narkoba, terutama di kalangan remaja.
"Untuk menilai seorang pemimpin yang bertanggung jawab, tidak perlu dilihat dari berapa kali ia sholat, ikut pengajian ataupun ibadah lainnya. Cukup dengan melihat kondisi kesejahteraan masyarakatnya, kesehatan warga dan tegaknya keadilan bagi semua," tegasnya.
Dalam ceramahnya, Anton Medan juga menceritakan pengalamanya selama 18 tahun 7 bulan keluar masuk dari penjara. Seperti penjara di Cipinang, Sukamiskin, Nusa Kambangan dan lainnya. Pengalaman di penjara sudah ia dapatkan saat usianya baru 12 tahun dan divonis 4 tahun penjara akibat perbuatannya. Baru keluar beberapa hari, ia pun kemudian masuk lagi ke penjara hingga beberapa kali akibat perbuatannya.
Namun berkat penjara juga, akhirnya ia memperoleh hidayah dan menjadi muallaf dengan masuk Islam pada 1992. Tiga hari kemudian, ia pun langsung menunaikan umroh dan kemudian haji pada 1993. Hingga saat ini, ia sudah menunaikan umroh sebanyak 16 kali.
Pengalaman tidak jauh berbeda, juga diceritakan mantan narapidana lainnya yang akhirnya menekuni dunia dakwah, Johnny Indo yang juga dihadirkan sebagai penceramah dalam kegiatan tersebut. Dalam ceramahnya, Johnny Indo mengajak masyarakat Batam untuk memelihara kerukunan umat beragama.
Kerukunan ini dapat terwujud, jika adanya sikap saling menghormati antar sesama pemeluk agama dalam menjalankan ibadahnya. Dan juga menghormati adat ataupun budaya di mana kita berada.
"Di mana bumi dipijak disitu langit dijunjung, namun kalau perbuatannya sudah keterlaluan segera laporkan ke polisi," ujar pria berdarah Belanda dan Indonesia didepan Asisten II Pemko Batam, Syamsul Bahrum, pejabat Otorita Batam dan ratusan jamaah yang hadir dalam acara tersebut. (sm/ts/sn)
BALOI- Setiap kejadian yang menimpa anak manusia adalah ujian dari Allah SWT, termasuk warga binaan rumah tahanan (Rutan) Kelas IIA Batam, Baloi, yang saat ini sedang menjalani cobaan dan ujian hidup. Apa yang dijalan para narapidana (napi) saat ini harus menjadi motivasi dan hikmah dari setiap yang kita lakukan agar kelak bisa hidup lebih baik.
"Tak seorang pun bisa mengetahui nasib yang akan terjadi kelak kecuali berusaha menjadi lebih baik, agar kelak bisa menyongsong masa depan yang lebih baik. Intinya memacu diri dengan belajar dan mau berbuat serta doa dengan ikhlas," tutur Anton Medan dalam ceramahnya yang digelar di Rutan Batam, Selasa (21/9).
Pria yang pernah menjadi narapidana dalam kasus kriminal, mengisahkan berbagai perjalanan panjangnya hidupnya saat menghuni lembaga pemasyarakatan (Lapas). Karena tekad dan keinginannya yang besar, dia akhirnya memilih jalan hidup menjadi penceramah atau ustadz agar bermanfaat bagi orang lain.
Menjadi lebih baik tentunya tidak semudah membalik telapak tangan, penuh perjuangan dan tantangan. Kuncinya belajar dan belajar mendalami ilmu yang bermanfaat agar kelak bermanfaat bagi semua mahluk. Bahkan saat dia pergi menunaikan ibadah Haji ke Mekah dan 16 kali Umrah, yang dimintanya tidak ada lain hanya diberikan kesehatan dan hidup bermanfaat bagi orang lain.
"Saya tidak minta harta dan kekayaan juga tidak minta agar kelak masuk surga. Yang saya minta hanya agar hidup saya bisa bermanfaat bagi semua orang," ucapanya di hadapan ratusan warga binaan Rutan Batam, yang sepontan disambut riuh tepuk tangan dan ucapan Amin.
Dia menuturkan, apa yang dialaminya saat ini bisa terjadi pada siapa saja termasuk napi di Rutan Baloi, asalkan punya tekad dan niat mau mengasah diri dengan belajar dan terus belajar tanpa menyerah. Meski hidup di sebuah ruang terbatas tapi jangan membuatnya berkecil hati, justru di ruang terbatas ini seharus bisa menjadikan kita lebih berintropseksi diri untuk memacu kehidupan yang lebih baik kelak.
Penjara jangan dijadikan hambatan untuk berkarya dan mengasah diri agar terus belajar. Boleh saja fisik dan ruang gerak kita dibatasi, namun akal dan pikiran kita tak bisa dibatasi oleh apapun. Anton juga mengisahkan tentang sosok Soekarno Presiden RI pertama, dia pernah mengatakan penjara adalah universitas yang paling besar. Karena di dalam penjara dia bisa manfaatkannya untuk belar, dengan demikian bisa melahirkan karya-karya besar. Tokoh lainnya seperti Buya Hamka, di dalam penjara banyak melahirkan karya-karya tulisan yang sangat bermakna.
Begitu juga Nelson Mandela pejuang kemanusiaan berkulit hitam di Afrika Selatan, selama 27 tahun beliau dipenjara menjadi tahanan politik, tapi pikirannya terus diasah di balik jeruji besi. Berkat kegigihannya dalam berjuang dan belajar di dalam penjara, setelah keluar dia menjadi orang nomor satu di negara yang baru saja menggelar pesta Piala Dunia olah raga bergengsi, Juni lalu.
"Jangan menyerah dengan keadaan, ayo pacu untuk maju. Karena diri kita sendiri yang menentukan langkah kita selanjutnya. Allah SWT, sayang terhadap kita semua tanpa melihat perbedaan dan latarbelakang kita," ujarnya. Yang membedakan kita dengan mahluk lainnya adalah ketakwaan. Hanya ketakwaan kita yang berbeda di mata Tuhan.
Senada juga ditambahkan Joni Indo mantan napi yang juga sahabat karib Anton, dia mengatakan tak ada niat lain berceramah keliling Rutan dan Lapas di Indonesia, selain memberikan motivasi dan menyemangati para napi dan mantan napi. Bahwa mereka yang hidup di dalam Lapas dan Rutan juga bisa meraih masa depan yang lebih baik.
"Masih ada harapan itu, asal kita mau berusaha. Ingat Tuhan tidak pernah menutup pintau bagi hamba-Nya yang mau berbuat dan memperbaiki diri, Tuhan selalu memberikan jalan terbaik bagi hamba-hamba yang betobat," ungkapnya.
Diakuinya saat ini sudah 460 Rutan dan Lapas se-Indonesia dijelajahinya, bahkan ceramahnya itu hingga ke kampus-kampus. "Insya Allah dalam waktu dekat ini juga saya akan berikan ceramah di Malaysia," ujar Joni mengakhiri.
Jauhi Judi dan Narkoba
=======================
Selain ceramah di Rutan, Anton Medan juga ceramah dalam tabligh akbar dan halal bihalal di Masjid Al-Khoir, Perumahan Anggrek Mas Batam Centre, Senin (20/9) malam.
Mantan narapidana yang sering keluar masuk penjara ini
mengajak masyarakat Batam menjauhi judi. Sebab judi merupakan salah satu penyakit masyarakat yang membuat ekonomi keluarga menjadi hancur. Karena judi orang nekat merampok, membunuh dan menjadikan keluarga berantakan.
"Kita ingatkan kepada masyarakat Batam jangan bermain judi. Tidak ada orang yang kaya dari judi, dan tidak ada bandar judi yang merugi," ungkapnya..
Selain judi, dua penyakit sosial lain yang tumbuh subur di Batam, menurut Anton adalah pelacuran dan narkoba. Merajalelanya pelacuran yang merupakan penyakit sosial yang sangat tua di dunia ini, menjadi tanggung jawab pemerintah untuk memberantasnya.
Tidak ada cita-cita seseorang untuk menjadi pelacur, melainkan salah satunya akibat kemiskinan yang menimpa keluarganya. Kesejahteraan ekonomi masyarakat harus menjadi perhatian pemerintah untuk dapat memberantas merajalelanya pelacuran di Batam.
Begitupun dengan narkoba, yang dapat merusak masa depan para generasi muda. Tidak sedikit kasus-kasus narkoba yang terjadi di Batam, yang menunjukkan suburnya peredaran narkoba, terutama di kalangan remaja.
"Untuk menilai seorang pemimpin yang bertanggung jawab, tidak perlu dilihat dari berapa kali ia sholat, ikut pengajian ataupun ibadah lainnya. Cukup dengan melihat kondisi kesejahteraan masyarakatnya, kesehatan warga dan tegaknya keadilan bagi semua," tegasnya.
Dalam ceramahnya, Anton Medan juga menceritakan pengalamanya selama 18 tahun 7 bulan keluar masuk dari penjara. Seperti penjara di Cipinang, Sukamiskin, Nusa Kambangan dan lainnya. Pengalaman di penjara sudah ia dapatkan saat usianya baru 12 tahun dan divonis 4 tahun penjara akibat perbuatannya. Baru keluar beberapa hari, ia pun kemudian masuk lagi ke penjara hingga beberapa kali akibat perbuatannya.
Namun berkat penjara juga, akhirnya ia memperoleh hidayah dan menjadi muallaf dengan masuk Islam pada 1992. Tiga hari kemudian, ia pun langsung menunaikan umroh dan kemudian haji pada 1993. Hingga saat ini, ia sudah menunaikan umroh sebanyak 16 kali.
Pengalaman tidak jauh berbeda, juga diceritakan mantan narapidana lainnya yang akhirnya menekuni dunia dakwah, Johnny Indo yang juga dihadirkan sebagai penceramah dalam kegiatan tersebut. Dalam ceramahnya, Johnny Indo mengajak masyarakat Batam untuk memelihara kerukunan umat beragama.
Kerukunan ini dapat terwujud, jika adanya sikap saling menghormati antar sesama pemeluk agama dalam menjalankan ibadahnya. Dan juga menghormati adat ataupun budaya di mana kita berada.
"Di mana bumi dipijak disitu langit dijunjung, namun kalau perbuatannya sudah keterlaluan segera laporkan ke polisi," ujar pria berdarah Belanda dan Indonesia didepan Asisten II Pemko Batam, Syamsul Bahrum, pejabat Otorita Batam dan ratusan jamaah yang hadir dalam acara tersebut. (sm/ts/sn)
Lihat juga artikel BLOG - C dibawah ini :
- Kisah Nabi ISA AS
- Kisah Aisyah Binti Abu Bakar Rha
- Kisah Maimunah Binti Al-Harits Rha
- Kisah Juwairiyah Binti Al-Harits Rha
- Kisah Zainab Binti Jahsy Rha
- Kisah Siti Khadijah Khuwailid Rha
- Kisah Saudah Binti Zamah Rha
- Kisah Hafsoh Binti Umar Rha
- Kisah Shafiyyah Binti Huyai Rha
- Kisah Ummu Salamah Rha
- Kisah Ummu Habibah Rha
- Kisah Abdullah Bin jafar
- Kisah Hasan Ra, Husein Ra, dan Abdullah Bin Jafar Ra
- Kisah Syeikh Malik Bin Dinnar Rah
- Kisah Imam Ahmad Bin Hambal Rah
- Kisah Imam Abu Hanifah Rah
- Kisah Imam Malik Rah
- Kisah Imam Muslim Rah
- Kisah Imam Al-Bukhari Rah
- Kisah Imam Syafi'i Rah
- Kisah Syeikh Maulana Ilyas
- Kisah Syeikh Muhammad Zakaria
- Jalan tobat sang rocker
- Kapolda Berdakwah Polisi dapat hidayah
- Kisah Cat Steven AKA
- Kisah HENGKI TORNANDO
- Anton Medan, Mantan Rampok & Bandar Judi yang Jadi Da'i
- Kisah Pentolan Grup Metal "Irvan Rotor"
- Sakti eks Gitaris So7 ganti nama Islami dan kembali bermusik
- Perjalanan Religi Sakti So7
Sakti, eks-Sheila On 7 Ganti Nama Islami dan Merilis Album Religi
Empat tahun lalu ketika memutuskan keluar dari Sheila On 7 saat penggarapan album kelima band tersebut, 507, gitaris Sakti Ari Seno seperti hilang ditelan bumi. Ia tak lagi terdengar di dunia hiburan dan sangat fokus pada kegiatan agama.
Pada Jumat (14/5) lalu di kawasan utara Yogya ditemani Eross SO7 dan grup nasyid lokal, secara sederhana Sakti merilis album religi pertamanya. Dengan mengganti namanya menjadi Salman Al-Jugjawy ia meluncurkan mini album bertitel Selamatkan.
Pada Jumat (14/5) lalu di kawasan utara Yogya ditemani Eross SO7 dan grup nasyid lokal, secara sederhana Sakti merilis album religi pertamanya. Dengan mengganti namanya menjadi Salman Al-Jugjawy ia meluncurkan mini album bertitel Selamatkan.
Album yang lebih cocok dikatakan album mini ini berisi dua buah lagu yang banyak bercerita tentang kedekatan dengan Allah SWT dan menyelamatkan bangsa dengan kembali ke Sang Pencipta.
Mantan gitaris million copies selling band ini bercerita soal alasannya kembali bermusik, pandangannya terhadap album religi dan pendapatnya tentang musik yang halal kepada Rolling Stone sesaat setelah ia menunaikan shalat Ashar.
Tahun 2006 Anda keluar dari Sheila on 7 sekaligus dunia musik, kenapa sekarang justru kembali lagi ke dunia musik?
Pada dasarnya saya memanfaatkan potensi yang saya punya untuk dimaksimalkan. Sayang rasanya kalau dulu udah pernah menjalankan potensi itu tapi sekarang justru tidak saya manfaatkan.
Pada dasarnya saya memanfaatkan potensi yang saya punya untuk dimaksimalkan. Sayang rasanya kalau dulu udah pernah menjalankan potensi itu tapi sekarang justru tidak saya manfaatkan.
Mengapa butuh waktu sampai empat tahun sejak keluar dari Sheila on 7 untuk merilis album solo?
Rencana membuat album sudah ada dari tahun 2007, proses kreatif sudah berjalan dari tahun itu, tapi ketika itu masih banyak kegiatan yang harus dilakukan, khususnya kegiatan agama. Akhirnya baru kesampaian sekarang. Ke depan niatnya setiap Maulid Nabi dan menjelang Bulan Ramadhan bisa ngeluarin single atau album.
Rencana membuat album sudah ada dari tahun 2007, proses kreatif sudah berjalan dari tahun itu, tapi ketika itu masih banyak kegiatan yang harus dilakukan, khususnya kegiatan agama. Akhirnya baru kesampaian sekarang. Ke depan niatnya setiap Maulid Nabi dan menjelang Bulan Ramadhan bisa ngeluarin single atau album.
Nama Sakti sebagai mantan gitaris Sheila On 7 jelas lebih populer ketimbang nama Salman Al-Jugjawy yang anda gunakan untuk album ini, bukankah secara bisnis nama Salman kurang menguntungkan?
Dari segi popularitas nama Sakti jelas lebih populer tapi nama itu kesannya super power. Yang benar-benar punya sifat Sakti itu ya, hanya Allah. Tapi buat saya nantinya, lagu yang dinilai ya lagunya, jadi masalah nama ini bukan masalah besar juga sih. Di akte kelahiran nama saya tetap Sakti kok, kalau ganti nama repot ngurus ke kelurahan (Tertawa).
Dari segi popularitas nama Sakti jelas lebih populer tapi nama itu kesannya super power. Yang benar-benar punya sifat Sakti itu ya, hanya Allah. Tapi buat saya nantinya, lagu yang dinilai ya lagunya, jadi masalah nama ini bukan masalah besar juga sih. Di akte kelahiran nama saya tetap Sakti kok, kalau ganti nama repot ngurus ke kelurahan (Tertawa).
Anda kembali bermusik karena kangen dunia hiburan?
Bukan, bukan karena alasan itu. Saya enggak kangen dunia hiburan. Semuanya balik lagi karena saya hanya memaksimalkan keahlian di bidang musik.
Kalau ternyata album ini sukses bukankah Sakti justru akan kembali ke dunia popularitas yang dulu dihindari?
Amin, albumnya bisa sukses, tapi semua balik lagi ke orangnya masing-masing. Pisau bisa buat masak masakan yang enak, tapi di satu sisi juga bisa disalahgunakan buat kriminal. Nah sekarang tinggal bagaimana menyikapi itu. Sama dengan menyikapi popularitas dan efeknya.
Amin, albumnya bisa sukses, tapi semua balik lagi ke orangnya masing-masing. Pisau bisa buat masak masakan yang enak, tapi di satu sisi juga bisa disalahgunakan buat kriminal. Nah sekarang tinggal bagaimana menyikapi itu. Sama dengan menyikapi popularitas dan efeknya.
Mengapa sekarang memilih mengusung musik religi?
Insya Allah lagu religi juga punya pasar yang tetap kalo dipandang dari sisi bisnis. Perhatikan juga kalau musik religi sifatnya tidak gampang hilang. Musik religi memang tidak bisa langsung melonjak tinggi banget secara popularitas tapi justru membuat musik religi long lasting sifatnya. Coba lihat Bimbo contohnya, lagunya kan long lasting semua.
Insya Allah lagu religi juga punya pasar yang tetap kalo dipandang dari sisi bisnis. Perhatikan juga kalau musik religi sifatnya tidak gampang hilang. Musik religi memang tidak bisa langsung melonjak tinggi banget secara popularitas tapi justru membuat musik religi long lasting sifatnya. Coba lihat Bimbo contohnya, lagunya kan long lasting semua.
Lagu religi biasanya diluncurkan pada saat Bulan Ramadhan karena faktor momentum dan strategi bisnis, kenapa Anda justru memilih ketika Ramadhan masih beberapa bulan lagi?
Target awalnya diluncurkan ketika Maulid Nabi, Februari 2010, tapi baru bisa terlaksana justru bulan Mei. Sebenarnya kalau kita pandang dari sisi bisnis, meluncurkan lagu religi ketika Bulan Ramadhan justru membuat orang bingung. Karena di bulan itu banyak banget musisi yang ngeluarin album religi, orang bakal bingung saking banyaknya. Ibaratnya saya mau curi start sebelum bulan Ramadhan. Tapi saya ada rencana ngeluncurin sekitar lima lagu lagi menjelang Ramadhan.
Target awalnya diluncurkan ketika Maulid Nabi, Februari 2010, tapi baru bisa terlaksana justru bulan Mei. Sebenarnya kalau kita pandang dari sisi bisnis, meluncurkan lagu religi ketika Bulan Ramadhan justru membuat orang bingung. Karena di bulan itu banyak banget musisi yang ngeluarin album religi, orang bakal bingung saking banyaknya. Ibaratnya saya mau curi start sebelum bulan Ramadhan. Tapi saya ada rencana ngeluncurin sekitar lima lagu lagi menjelang Ramadhan.
Album ini juga Anda tujukan sebagai sarana dakwah?
Album ini sebagai sarana dakwah iya. Pada dasarnya dakwah kan datang ke orang dan mengajaknya menuju ke kebaikan. Dengan kapasitas saya sebagai musisi ya ajakan itu bentuknya bisa lewat lagu. Sarana dakwah saya tentunya juga bisa lewat lagu.
Album ini sebagai sarana dakwah iya. Pada dasarnya dakwah kan datang ke orang dan mengajaknya menuju ke kebaikan. Dengan kapasitas saya sebagai musisi ya ajakan itu bentuknya bisa lewat lagu. Sarana dakwah saya tentunya juga bisa lewat lagu.
Saat ini lagu religi sudah banyak, bahkan grup band macam Gigi atau Ungu juga meluncurkan album religi, pendapat Anda?
Nggak ada masalah buat saya, saya justru tambah senang karena tujuannya baik. Ya, semakin baguslah dengan iklim seperti itu.
Bagaimana Anda memandang pendapat yang menyatakan kalau lagu religi seperti menjadikan agama sebagai komoditi jualan?
Nggak ada masalah buat saya, saya justru tambah senang karena tujuannya baik. Ya, semakin baguslah dengan iklim seperti itu.
Bagaimana Anda memandang pendapat yang menyatakan kalau lagu religi seperti menjadikan agama sebagai komoditi jualan?
Memang ada yang mengatakan seperti itu. Tapi perlu dilihat juga kalau lagu religi itu yang dijual seninya, content lagunya, bukan agamanya, lho. Ibaratnya, sama aja seperti orang jual kaligrafi, yang dijual bukan ayatnya tapi seni kaligrafinya Makin bagus seninya kan makin dihargai. Lagu religi ya sama saja, yang dijual seni dan isi lagunya, bukan agamanya menurut saya.
Ada perdebatan tentang bermusik itu haram atau halal di Islam, dengan merilis album ini sepertinya Anda di posisi mengatakan kalau musik itu halal?
Bicara di wilayah musik halal atau haram memang banyak perdebatan. Tapi banyak pendapat membolehkan dengan beberapa syarat. Nah salah satu syaratnya misalnya lagu itu harus mengajak ke kebaikan. Itu kan akhirnya bakal balik lagi ke diri kita, lagu apa yang akan kita pilih untuk kita bawain di dunia musik.
Bicara di wilayah musik halal atau haram memang banyak perdebatan. Tapi banyak pendapat membolehkan dengan beberapa syarat. Nah salah satu syaratnya misalnya lagu itu harus mengajak ke kebaikan. Itu kan akhirnya bakal balik lagi ke diri kita, lagu apa yang akan kita pilih untuk kita bawain di dunia musik.
Source : http://www.rollingstone.co.id/
Lihat juga artikel BLOG - C dibawah ini :
- Kisah Nabi ISA AS
- Kisah Aisyah Binti Abu Bakar Rha
- Kisah Maimunah Binti Al-Harits Rha
- Kisah Juwairiyah Binti Al-Harits Rha
- Kisah Zainab Binti Jahsy Rha
- Kisah Siti Khadijah Khuwailid Rha
- Kisah Saudah Binti Zamah Rha
- Kisah Hafsoh Binti Umar Rha
- Kisah Shafiyyah Binti Huyai Rha
- Kisah Ummu Salamah Rha
- Kisah Ummu Habibah Rha
- Kisah Abdullah Bin jafar
- Kisah Hasan Ra, Husein Ra, dan Abdullah Bin Jafar Ra
- Kisah Syeikh Malik Bin Dinnar Rah
- Kisah Imam Ahmad Bin Hambal Rah
- Kisah Imam Abu Hanifah Rah
- Kisah Imam Malik Rah
- Kisah Imam Muslim Rah
- Kisah Imam Al-Bukhari Rah
- Kisah Imam Syafi'i Rah
- Kisah Syeikh Maulana Ilyas
- Kisah Syeikh Muhammad Zakaria
- Jalan tobat sang rocker
- Kapolda Berdakwah Polisi dapat hidayah
- Kisah Cat Steven AKA
- Kisah HENGKI TORNANDO
- Anton Medan, Mantan Rampok & Bandar Judi yang Jadi Da'i
- Kisah Pentolan Grup Metal "Irvan Rotor"
- Sakti eks Gitaris So7 ganti nama Islami dan kembali bermusik
- Perjalanan Religi Sakti So7
Perubahan Hidup Irvan Rotor ( Pentolan Grup Metal "ROTOR" )
Kompasiana.com, sosbud.kompasiana.com/…/mengambil-hikmah-kehidupan-dari-irvan-sembiring-1/
Berpakaian gamis, sorban dikepala selalu melekat dikepalanya, dan berjalan tegap kearah masjid jika sudah masuk waktu sholat, itulah keseharian Irvan Sembiring saat ini, waktunya dia habiskan untuk mengabdi kepada Alloh Swt, berbeda sekali dengan keadaannya pada 20 tahun silam, dimana pada waktu itu dia masih menjadi pentolan grup Band Rotor, kesehariaannya yang urakan dan jauh dari masjid.
Itulah sekelumit keadaan Irvan Sembiring saat ini, wajahnya yang ganteng, ditambah janggut yang menggelayuti dagunya. Wajahnya makin bersinar, karena wajah itu selalu disirami oleh air wudhu setiap saat. Ini adalah kisah nyata, kebetulan saya pernah tinggal dekat dengan Irvan, jadi secara garis besar saya tahu benar keseharian dia.
Anda mungkin bertanya-tanya siapa Irvan Sembiring itu, melalui tulisan ini saya mencoba untuk menjelaskan secara lebih dalam mengenai sahabat saya ini. Irvan merupakan mantan frontman grup thrash metal, dia juga merupakan pionir Rotor, Grup Band yang mengusung aliran thrash metal. Rotor cukup terkenal pada era 90-an, karena Band ini termasuk Grup Band dengan aliran thrash metal yang pertama kali rekaman.
Irvan merupakan pendiri dan pentolan Rotor, bersama Rotor dia pernah menjadi supporting act konser supergrup Metallica selama dua hari berturut-turut di stadion Lebak Bulus, Jakarta. Dengan menjadi Band pembuka pada konser Metallica tersebut, maka nama Band Rotor makin dikenal luas bagi pecinta musik metal.
Sudah empat album ditelorkan oleh Rotor, diantaranya : Album Rotor – Behind The 8th Ball (1992), Album Rotor – Eleven Keys (1995), Album Rotor – New Blood (1997), Album Rotor – Menang (1998). Namun, semenjak Irvan memilih jalan hidup menjadi pendakwah, atau biasa masyarakat menyebut sebagai Jamaah Tabligh, maka lambat laun dia mulai memendam profesinya sebagai pemain musik, walaupun belum sepenuhnya dunia musik dia tinggalkan.
Ditambah lagi dua personilnya sudah meninggal, dan saat ini Rotor hanya dihuni oleh dua personil sisa, yaitu irvan sendiri, dan bakar sang Drummer. Oh iya, Irvan juga mantan gitaris Sucker Head, sebuah Grup Band beraliran metal juga.
Saat ini masjid menjadi rumah bagi Irvan, karena sehari-hari dia akan berada disana, walalupun bukan pada waktu-waktu sholat, ketika saya tinggal di cinere, yang tidak jauh dari rumahnya yang berada di Komplek AL, maka saya banyak mengetahui segala kegiatan hariannya. Dia biasa melaksanakan sholat lima waktu di masjid Al-Ittihat Blok-A ( Perumahan di seberang Cinere Mall), atau di masjid Imam Bonjol (komplek AL).
Masih gatel bermain gitar sesekali (Koleksi Pribadi)
Itulah aktifas dia saat ini, hari-harinya dipenuhi dengan ibadah. Kalau tidak sholat, dia akan berdakwah, atau menemani jamaah-jamaah dakwah yang datang ke cinere. Jika ada jamaah dakwah, maka bisa dipastikan dia tidak akan berada dirumah, tapi selalu berada di masjid.
Masih banyak kisah-kisah menarik mengenai dirinya, Insya Allah saya akan menuliskan kisahnya secara berseri, terutama kisah perjalanan dakwahnya ke berbagai negara. Sekian dulu…
Source : dalamdawah
Lihat juga artikel BLOG - C dibawah ini :
- Kisah Nabi ISA AS
- Kisah Aisyah Binti Abu Bakar Rha
- Kisah Maimunah Binti Al-Harits Rha
- Kisah Juwairiyah Binti Al-Harits Rha
- Kisah Zainab Binti Jahsy Rha
- Kisah Siti Khadijah Khuwailid Rha
- Kisah Saudah Binti Zamah Rha
- Kisah Hafsoh Binti Umar Rha
- Kisah Shafiyyah Binti Huyai Rha
- Kisah Ummu Salamah Rha
- Kisah Ummu Habibah Rha
- Kisah Abdullah Bin jafar
- Kisah Hasan Ra, Husein Ra, dan Abdullah Bin Jafar Ra
- Kisah Syeikh Malik Bin Dinnar Rah
- Kisah Imam Ahmad Bin Hambal Rah
- Kisah Imam Abu Hanifah Rah
- Kisah Imam Malik Rah
- Kisah Imam Muslim Rah
- Kisah Imam Al-Bukhari Rah
- Kisah Imam Syafi'i Rah
- Kisah Syeikh Maulana Ilyas
- Kisah Syeikh Muhammad Zakaria
- Jalan tobat sang rocker
- Kapolda Berdakwah Polisi dapat hidayah
- Kisah Cat Steven AKA
- Kisah HENGKI TORNANDO
- Anton Medan, Mantan Rampok & Bandar Judi yang Jadi Da'i
- Kisah Pentolan Grup Metal "Irvan Rotor"
- Sakti eks Gitaris So7 ganti nama Islami dan kembali bermusik
- Perjalanan Religi Sakti So7
Jumat, 03 Desember 2010
Jalan Tobat Sang Rocker (Alm. Gito Rollies)
Perubahan yang terjadi pada sosok Gito Rollies demikian terasa. Denyutnya sempat menyentak dunia hiburan Indonesia. Dari seorang Rocker, ia berubah menjadi “ustadz” dan berdakwah di kepada teman-teman seprofesinya. Bahkan iapun meninggal saat sedang menjalankan program dakwah. Luar biasa memang sosok Gito, penyakit nan ganas, kanker kelenjar getah bening yang telah ia derita sejak beberapa tahun lalu (ia bahkan pernah dirawat di Singapura), tidak menyurutkan semangat dakwahnya. Bahkan, dengan berkursi roda, ia tetap semangat mengumbar dakwah dari mesjid ke mesjid.
Wassalam,
Abu Izza Adduri
Bangun Sugito Tukiman, adalah salah satu nama dari sekian juta penduduk negeri ini yang terhipnotis oleh musik rock (barat). Figur The Rolling Stones, dengan lead vocal-nya Mick Jagger, menjadi idola remaja yang lahir di kota Biak dan besar di kota Bandung ini. Bahkan aksi nekatnya di tahun 1967, memmembuat kota Bandung gempar, ketika dirinya yang mendapat cap “Siswa Bengal” termasuk salah satu siswa yang lulus dari SMA-nya, melakukan aksi tanpa busana sambil naik sepeda motor mengelilingi kota kembang tersebut. Kesukacitaannya dilampiaskan dengan gaya ala rocker, maklum, daftar kenakalannya lebih panjang dari daftar absen murid, sehingga ia tak yakin jika namanya akan tertulis di papan pengumuman seperti teman-temannya yang lulus (tempointeraktif.com).
Selepas SMA, di kota yang sama, Bangun Sugito Tukiman (vokal) bersama rekan-rekannya, Teuku Zulian Iskandar Madian (saxophone, gitar), Benny Likumahuwa (trombone, flute), Didiet Maruto (trumpet), Jimmie Manoppo (drum), dan Oetje F. Tekol (bas) mendirikan band yang bernama The Rollies. Di era 1970-an, The Rollies semakin eksis dan menunjukkan taringya sebagai grup band rock handal di tanah air. Belakangan, setelah sukses dengan beberapa hits yang sempat bertengger di belantika musik Indonesia, namanya pun berganti menjadi Gito Rollies. Waktu terus berjalan, anak tangga karir perlahan-lahan ditapaki satu demi satu. Sanjungan dan pujian, memmembuat dirinya telah merasa menjadi seorang Mick Jagger Indonesia, sosok yang dikagumi dan diidolakannya.
Pria yang sempat mengenyam kuliah dua tahun di Jurusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB), terus larut bersama kebesaran The Rollies. Aksi panggungnya mirip dengan sang idola, suara serak ala James Brown, bapak moyang soul dan funk, menjadikannya pusat perhatian. Kesuksesan di panggung telah mengantarkan diri dan kelompoknya di industri rekaman, pun mengantarkannya menjadi hedonis sejati.
“Tiap Jumat siang kami berangkat ke daerah Puncak Bogor untuk pesta miras dan narkoba,” Ungkap Gito dengan nada sesal.
Di masa ketenarannya, pada awal tahun 1980, ia menjalin hubungan intim dengan putri seorang aktor dan komedian besar, Uci Bing Slamet, dan darinya dikaruniai seorang anak lalu berpisah setelahnya. Bahkan setelah menikah dengan perempuan impor, wanita keturunan Belanda, Michelle Van der Rest, tahun 1983, ia masih belum bisa melepaskan diri sepenuhnya dari pengaruh narkotika (AntaraNews).
Setelah bersolo karir, dia menelorkan sejumlah album solo, yakni Tuan Musik (1986), Permata Hitam/Sesuap Nasi (1987), Aku tetap Aku (1987), Air Api (1987) dan Tragedi Buah Apel (1987) dan Goyah (1987).
Sebagai aktor Gito memulai debutnya di dunia film lewat Buah Bibir (1973) sebagai figuran. Setelah benar-benar menjadi aktor ia bermain dalam Perempuan Tanpa Dosa (1978), Di Ujung Malam (1979) dan Sepasang Merpati (1979), dan Permainan Bulan Desember (1980), dan Kereta Api Terkahir (…). Namun kekuatan aktingnya terlihat pada Janji Joni yang mengantarkannya meraih piala Citra untuk kategori Aktor Pembatu Pria Terbaik pada Festival Film Indonesia tahun 2005.
Awal Kesadaran
Tahun 1995, atau tepat setelah 10 November, Sang Rocker baru benar-benar berhenti mengkonsumsi drugs dan alkohol, setelah mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya shock lahir batin. Sepulang dari konser Hari Pahlawan di Surabaya, di bawah pengaruh narkoba, selama tiga hari ia mengalami fly, tak bisa makan dan tak bisa tidur, dan selama tiga hari itu semua kelakuannya di masa lalu seperti diputar di depan mata. “Saya takut sekali,” ujarnya seperti diungkap kepada koran Tempo. Namun yang paling memmembuatnya ciut justru menyangkut segala omongan yang pernah terlontar dari mulutnya. Fitnah dan gunjingan terhadap musisi lain, termasuk melakukan ghibah (membicarekan kejelekan orang lain).
Pengalaman tiga hari itulah yang menjadi titik balik dirinya untuk kembali kepada Allah. Khabar tentang kekuasaanNya, telah diwartakan ke segenap penjuru bumi kepada seluruh manusia, hanya saja tidak banyak orang yang menyadarinya
“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (QS. Adz-Dzaariyaat, 51 : 20-21).
Jika seseorang memperhatikan tanda-tanda itu, dan Allah SWT telah membukakan jalan masuk untuk memahami, tentu tidaklah sulit. Dalam ayat lain, Allah berfirman,
“Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kelalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kelalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Yunus, 10 : 23).
Bisa jadi peristiwa yang ia alami, karena Allah hendak mengabarkan hal itu kepadanya sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri. Di usia kepala empatnya, seorang Gito Rollies diingatkan Allah SWT melalui sebuah peristiwa spiritual yang memmembuatnya bergidik ketakukan. Nyalinya ciut, gemetar badannya, kekuatan musik cadas tak mampu menyangga hatinya yang terkoyak kala tanda-tandaNya telah diterima saat dirinya fly. Kesadaran bathinnya bergolak untuk bangkit dari masa-masa kelam yang telah mengotori jiwanya.
Sang Rocker kini dalam kesadaran awal setelah puluhan tahun terlelap bersama kesuksesan, polularibeg, dan kenikmatan duniawi. “Saya harus hijrah, bukan ini tujuan saya dilahirkan ke muka bumi, tetapi ada tugas lain yang harus saya lakukan sebagai bekal pertemuan dengan Sang Pemilik jiwa ini,” ujar hati itu berkata lirih.
Hatinya telah terbuahi cintaNya yang tulus dan suci sehingga sang hati sejati berkata,
"Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf, 12 : 53).
Sebelum merasakan ke-Mahaan Allah dalam dirinya, Bangun Sugito hidup dalam serba kecukupan. Bergelimang kemewahan, bergiat dalam kehidupan malam, bertemankan jarum neraka. Begitulah hari demi hari yang dilalui seolah pakaian yang tak pernah lepas dari badannya.
Bahagiakah hidup seperti itu? Mendatangkan ketenangankah semua itu? Sebuah pertanyaan yang belum terjawab, sebuah rasa yang belum pernah ada dan sebuah keinginan yang belum tercapai. Pada akhirnya semuanya hanya menghantarkannya ke alam risau, resah dan gelisah.
Klimaks terjadi kala ia merayakan ulangtahunnya yang ke-50 pada 1997. Di situ, Gito mengundang seluruh karibnya untuk berpesta alkohol dan obat sepuasnya.
Dalam kerisauan panjang, beriring desah dan keluh kesah, daerah Puncak Bogor –Puncak dikenal sebagai tempat rekreasi di daerah Jawa Barat– selalu menjadi tempat menumpahkan penat, mengubur kegundahan yang membuncah. Wal hasil bukan ketenangan yang didapat bahkan gelisah itu makin menjadi. Namun dari daerah inilah benih hidayah itu mulai mekar membesar. Puncak menjadi tempat bersejarah, tempat solusi menjawab segala kerisauan.
Saat itu hari Jumat siang. Pria dengan rambut awut-awutan ini masih memegang botol miras, duduk di tempat yang tinggi sambil sesekali memandang ke arah bawah. Pandangannya tertuju kepada beberapa warga desa yang banyak menuju mesjid, hatinyapun bergetar, kerisauanpun kembali mengusik hati.
Mereka dengan kesahajaan bisa menemukan kebahagiaan. Apakah di Masjid ada kebahagiaan?!” Pertanyaan itu selalu mengusik Gito.
Sungguh pemandangan indah di hari Jumat itu, memberi arti tersendiri bagi kehidupan Gito Rollies. Sulit dibedakan keterusikan karena sekedar ingin tahu atau ini adalah awal Allah membukakan hatinya bagi pintu tobat.
Dicobanya untuk mendekati Masjid itu, subhanallah, seperti ada magnit yang memendekkan langkahnya untuk tiba. Mungkin di sana ada kebahagiaan. Terlihatlah sebuah pemandangan yang meluluhlantakan kegelisahannya selama ini.
“Rasanya seluruh otakku tiba-tiba dipenuhi oleh kekaguman. Dan entah kenapa, aku seperti mendapatkan ketenangan melihat orang-orang ruku, sujud dalam kekhusuan,”
“Bukankah apa yang kulakukan selama ini untuk mendapatkan ketenangan, tapi kenapa tidak? Ya, aku telah bergelut dengan kesalahan dan tetek bengeknya yang semuanya adalah dosa. Benarkah Allah tidak akan mengampuni dosaku? Lanbeg membuat apa aku hidup jika jelas-jelas bergelimang dalam ketidakbahagiaan.” Pikiran itu terus bergelayut seakan haus jawaban.
“Malam itu aku benar-benar tidak dapat memejamkan mata. Aku gelisah sekali. Ya, ternyata aku yang selama ini urekan, permisive ternyata masih takut dengan dosa dan neraka. Berhari-hari aku mengalami kegelisahan yang luar biasa. Hingga suatu malam, di saat kegelisahanku mencapai “puncaknya”, aku memutuskan untuk memulai hidup baru.
“Selama hidupku, baru kali ini aku diliputi suatu perasaan yang belum pernah aku rasakan semenjak mulai memasuki dunia selebritis. Maka, aku pun segera berwudlu dan melakukan shalat. Ketika itu, untuk pertama kalinya pula aku merasakan kebahagiaan dan kedamaian. Dan sejak hari itu, aku memutuskan untuk tekun memperdalam agama sekalipun masih banyak sekali tawaran-tawaran menggiurkan yang disodorkan kepadaku atau pun beragam ejekan dari sebagian orang. Aku pun melaksanakan haji seraya berdiri dan menangis di hadapan ka’bah memohon kepada Allah kiranya mengampuni dosa-dosa yang telah aku lakukan pada hari-hari hitamku.”
Ketika mentari terbit, Gito langsung mengajak istrinya untuk pergi ke Bandung, menjenguk sang ibunda. Di sana, ia mengutarekan niatnya untuk tobat yang disambut tangis haru sang ibu. Sejak saat itu, Gito resmi meninggalkan dunia kelam.
Satu yang disyukuri Gito adalah, dukungan dan kesabaran sang istri, Michelle, yang tak pantang habis.
“Saat aku sudah belajar agama, aku tidak berupaya menyuruhnya shalat. Ia tiba-tiba belajar shalat sendiri, begitu juga anak-anak. Suatu hari, ketika aku pulang, tiba-tiba aku mendapatinya tengah mematut diri di depan kaca sambil mengenakan jilbab. Padahal aku tidak pernah menyuruhnya. Subhanallah, istriku memang yang terbaik yang pernah diberikan Allah,” kata ayah dari empat putra ini.
Tobatnya Gito juga disyukuri oleh sang mertua, warga negara Belanda yang berimigrasi ke Kanada. Meski berbeda keyakinan, ibu mertuanya justru senang dengan perubahan yang dialami Gito.
“Kata beliau, aku jadi lebih kalem ketimbang dulu, meski sekarang pakai jenggot segala. Bahkan aku jadi menantu favoritnya lho,” tuturnya sambil terkekeh.
“Mengapa Allah memberikan hidayah kepada diriku yang kerdil ini? Mengapa Allah menciptakan makhluk yang penuh dosa ini?”
Gito mengaku harus merenung lama untuk menemukan jawaban itu. Setelah dia menjalankan shalat dan menunaikan haji, jawaban itu baru mampir di benak dan pikirannya. “Ternyata, Allah menciptakanku untuk menjadi manusia baik. Semula mengikuti idolaku, Mick Jagger. Aku menjadi penyanyi dan rekaman lalu mendapat honor. Tapi itu bukan kebahagiaan sepenuhnya membuatku.”
“Mick Jagger itu dulu menjadi idolaku. Ikut mabok, main cewek, dan seabrek dunia kelam lain. Tapi sekarang aku mengidolakan Nabi. Dan sekarang, aku menemukan nikmat yang tiada tara.”
Kalimat itu meluncur dengan lugas dari Gito Rollies, artis ndugal yang kini memilih ke pintu pertobatan. Penampilan Gito tak lagi urekan dengan rambut awut-awutan dan celana jin belel. Bukan pula pelantun lagu-lagu cadas yang berjingkrak-jingkrak tidak keruan.
“Aku sudah mendapatkan banyak hal di dunia ini. Sekarang saatnya mengumpulkan amal untuk persiapan menghadapi hari akhir ,” katanya ketika memberi testimoni tentang perubahan dalam hidupnya.
Setelah mengalami pengalaman rohani, dirinya mulai banyak bergaul dengan kalangan ulama, mengaji, serta mempelajari Al-Qur’an dan Hadits secara mendalam. Perlahan-lahan Allah SWT tanamkan pemahaman arti hidup sebenarnya. Sang Gito Rollies merasa telah menemukan hujjah yang mendasari hidupnya. “Dulu saya suka Mick Jagger, saya bahagia kalau populer. Ibaratnya, dulu tuhan saya adalah popularibeg. Nabi saya adalah para idola saya, dan rocker-rocker luar negeri, sekarang saya begitu mencintai Nabi Muhammad SAW dan ajaran-Nya,” ujarnya.
ALLAH MAHA BESAR, demikian kira-kira satu ungkapan yang cocok dialamatkan kepada legenda musik rock Indonesia tersebut. Ketika Gito memutuskan berputar haluan 180 derajat dari dunia rocker yang hingar bingar menuju kehidupan Islami yang sarat dengan dakwah, banyak sahabat yang kaget, seolah tak percaya. Apalagi bagi sahabat yang sangat mengenal Gito, rasa-rasanya “mustahil” ia berubah seperti itu. Dengan kata lain, apa yang dilakukan Gito ketika itu adalah “aneh bin ajaib”. Apalagi jika membandingkan gaya hidup dan penampilan Gito dulu yang “compang-camping” ala rocker, berubah menjadi seorang yang sangat Islami. Bahkan pakaian sehari-harinya pun bukan celana jins robek lagi, melainkan pakaian gamis lengkap dengan peci, layaknya umat Islam.
Dakwah dan Tabligh
Tidak ada yang tidak mungkin selain mengecat langit! Demikian kira-kira perumpamaan yang sedikit nyeleneh untuk mengungkapkan fenomena hijrahnya Gito Rollies ke dunia dakwah. Sejak 1997 ia mulai menapaki “karir” dalam dunia karkun Jamaah Tabligh (pekerja dakwah yang rela mengorbankan harta dan kehidupan dunia semata-mata untuk berdakwah di jalan Allah). Selama rentang waktu 1997-Februari 2008 ini, Gito telah malang melintang keliling Indonesia untuk menyebarkan dakwah kepada umat Islam. Berpindah dari mesjid satu ke mesjid lainnya.
”Awalnya, saya hanya melihat orang-orang yang pergi ke masjid dan belum menunaikan shalat, meskipun saya beragama Islam. Selanjutnya saya beranikan diri masuk ke rumah Allah itu. Wah, kali pertama rasanya malu sekali dan menakutkan tempat itu. Lama-lama Allah berkenan memberikan hidayah kepada saya,” ungkap Gito semasa hidup. Hal itu ia ungkapkan seraya mengenang awal mula kembali ke jalan Allah. (dikutip dari suaramerdeka.com. Berita Edisi 17 April 2004. Diakses Sabtu, 01 Maret 2008)
Khuruj fi Sabilillah (pergi ke luar rumah/kampung halaman) semata-mata untuk senantiasa memperbaiki iman dan ketakwaan bagi dirinya sendiri dan seluruh umat, diputuskan Gito sebagai jalan hidup. Seorang artis ibukota dalam salah satu siaran televisi Nasional mengungkapkan suatu pernyatan Gito yang mengharukan sekaligus membahagiakan, “Gito dulu pernah berkata kepada saya, bahwa ia ingin mati di panggung sebagai seorang rocker. Tapi suatu saat ia justru berubah pikiran. Gito bilang ia ingin mati di panggung, tapi bukan sebagai rocker melainkan saat berdakwah,” ungkapnya dengan nada haru dan berlinang air mata, seraya menjelaskan bahwa keinginan Gito tersebut dikabulkan Allah lewat jalan lain, yaitu Gito meninggal sesampainya di Jakarta setelah beberapa hari melaksanakan dakwah khuruj fi sabilillah di Padang, Sumatera Barat.
Demikian pula Da’i kondang Arifin Ilham, kepada wartawan, sembari tak kuasa menahan air mata, ia mengungkapkan bahwa Gito Rollies adalah teladan bagi umat. Ia juga mengungkapkan semasa hidup Gito telah berjuang di jalan Allah dengan membawa misi dakwah, meskipun penyakit yang diderita Gito cukup berat.
Luar biasa memang sosok Gito, penyakit nan ganas, kanker kelenjar getah bening yang telah ia derita sejak beberapa tahun lalu (ia bahkan pernah dirawat di Singapura), tidak menyurutkan semangat dakwahnya. Bahkan, dengan berkursi roda, ia tetap semangat mengumbar dakwah dari mesjid ke mesjid.
Berdakwah Di Kalangan Artis
Toh, meski sudah berada di jalan Allah, Gito tak pernah merasa dirinya yang paling benar. Ia selalu menolak jika disebut kyai, atau diminta untuk berceramah. Menurutnya, ia hanyalah orang yang masih terus belajar agama. Apapun yang diucapkannya di depan umum adalah upayanya berbagi cerita.
Bahkan, Gito masih merasa belum cukup bertobat hingga akhir hayatnya. Tak pernah sekalipun ia merasa dosa-dosanya telah terhapuskan. Dalam suatu pengajian ia sempat bertanya kepada ustadz yang berceramah, apakah dosa-dosanya di masa lalu bisa berkurang dengan permembuatannya saat ini.
Ia pun berdakwah di kalangan artis, baik penyanyi maupun bintang film. Allah seolah telah mengirim seorang utusan dari kalangan mereka sendiri, komunibeg yang sangat rentan terhadap segala bentuk kemaksiatan, seperti minuman keras, narkoba, bahkan seks bebas. Profesinya sebagai artis didayagunakan untuk syi’ar agama Allah, mengajak mereka dengan cinta kasih, tidak pernah memaksa, bahkan tidak merasa dirinya paling baik dan paling benar. Baginya, teladan lebih utama dari sekedar retorika religi belaka.
Penbeg musik dengan beberapa kelompok band muda terus dijalani. Bedanya, penbeg kali ini tanpa alkohol dan drugs serta menyelipkan syi’ar Islam di setiap penampilannya. Juga di balik layar lebar, film-film bertema religius sanggup dilakoni dengan satu semangat, yaitu menggemakan ajaranNya yang dibawa oleh Baginda Rasulullah
“Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata) : Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain dariNya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya).” (QS. Al-Mu’minuun, 23 : 32).
Beberapa tahun belakangan, orang mulai memanggilnya Ustadz Gito, meski ia menolak panggilan itu. Banyak kalangan artis yang tersadarkan setelah menyimak penuturan pengalaman hidupnya. Teladan dan ucapannya yang lemah lembut memmembuat semakin banyak orang yang simpatik dengan isi dakwah, syi’ar yang diangkat dari pengalaman pribadinya. Ia pun sempat mendaur ulang album lawasnya, Cinta yang Tulus, bukan lagi tema cinta antara sepasang manusia tetapi antara makhluk dan Khalik.
Kini Kang Gito telah berubah, masa lalu memang tidak mungkin terhapus dari diary-nya, dan akan menjadi catatan sejarah panjang. Tetapi itulah kehidupan, segalanya belum titik, tapi masih koma. Dan baru mencapai titik bila ajal menjemput. Jalan hidupnya mengingatkan kita pada sosok Cat Stevens yang pernah tersandung sebuah kejadian luar biasa, lanbeg banting setir ke arah tidak terduga setelah selamat dari gulungan ombak besar di pantai Hawaii. Cat Stevens meninggalkan agama lamanya dan dunia yang memungkinkan segalanya kecuali spiritualibeg. Ia pun berganti agama dan namanya dengan jati diri yang baru, yaitu Yusuf Islam. Gito Rollies tidak perlu ganti nama, namun dirinya bermetamorforsis menjadi hambaNya yang memahami tujuan hidupnya serta berusaha menjadi bermanfaat bagi orang lain walaupun harus berceramah di abeg kursi roda dan melawan penyakit kanker getah benih yang menderanya sejak 2005.
Wafat Dengan Tersenyum
Perjalanannya terhenti pada pukul 18.45 WIB, Kamis (28/02), setelah Sang Rocker menghembuskan nafasnya yang terakhir. “Beliau meninggal setelah melakukan shalat Maghrib dan melakukan do’a terakhir,” ujar rekan artis yang turut melayatnya. Dua belas tahun lebih di sisa usianya dihabiskan untuk melayani dan mengajak orang lain melakukan kebaikan. Sakitnya tidak begitu dirasakan, bahkan pada akhirnya beliau nikmati sebagai peluntur sisa-sisa kekotoran dirinya dan menjadi musabab kematiannya.
Ia tersenyum saat Sang Malaikat maut mengepakkan sayapnya dan hadir di hadapannya untuk mencabut nyawa sang Rocker. Ikhlas menerima takdirNya, melepaskan segala bentuk atribut keduniawian. Kekelaman hidup terbayar tunai dengan amal permembuatan, dan senyum itu semakin menyeringai di wajahnya kala sang Malaikat perlahan-lahan mengambil ruh milikNya. Sehingga beliau masih mempunyai waktu untuk melafalkan lafadz tauhid. Dan sang Rocker pun meninggalkan dunia fana ini dengan rasa puas dan merasa tenang.
“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu.” (QS. Al-Fajr, 89 : 27-30).
Insya Allah, beliau meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Mudah-mudahan peristiwa ini memotivasi kita semua untuk bisa bermembuat sebaik-baiknya, dan memberi manfaat sebesar-besarnya bagi kita di sisa umur yang tidak lama lagi. Tiada pernah terucap kata putus asa, karena Dia pasti akan mengampuni segala kesalahan dan dosa-dosa hamba-hambaNya, karena Kasih SayangNya bak Samudera Tak Bertepi. Semoga kita termasuk orang-orang yang berakhir hidup dengan jiwa yang muthmainnah, sebagaimana mereka yang terpilih.
Gito menigggalkan seorang isteri bernama Michelle dan lima anak, yakni Galih Permadi, Bintang Ramadhan, Bayu Wirokarma, dan Puja Antar Bangsa.
Sebaik-baik usia tiap orang adalah pada penghujungnya. Dan ketahuilah, bagi kita, ujung-ujung usia akan selamanya menjadi misteri, karena seringkali di sanalah Allah memberikan kesudahan yang indah dari perjalanan taubat hamba-Nya.
Sumber:
1. Dedy Rahmat, Gito Rollies Wafat, Tinggalkan Semangat Dakwah http://pelitanews.com/news/129/ARTICLE/1861/2008-03-01.html
2. Fauzi Nugroho, Samudera Tak Bertepi, Kobegantri.com.
3. Aidil Heryana, S.SosiJalan Taubat Sang Rocker, http://www.dakwatuna.com/2008/jalan-taubat-sang-rocker/
- Kisah Nabi ISA AS
- Kisah Aisyah Binti Abu Bakar Rha
- Kisah Maimunah Binti Al-Harits Rha
- Kisah Juwairiyah Binti Al-Harits Rha
- Kisah Zainab Binti Jahsy Rha
- Kisah Siti Khadijah Khuwailid Rha
- Kisah Saudah Binti Zamah Rha
- Kisah Hafsoh Binti Umar Rha
- Kisah Shafiyyah Binti Huyai Rha
- Kisah Ummu Salamah Rha
- Kisah Ummu Habibah Rha
- Kisah Abdullah Bin jafar
- Kisah Hasan Ra, Husein Ra, dan Abdullah Bin Jafar Ra
- Kisah Syeikh Malik Bin Dinnar Rah
- Kisah Imam Ahmad Bin Hambal Rah
- Kisah Imam Abu Hanifah Rah
- Kisah Imam Malik Rah
- Kisah Imam Muslim Rah
- Kisah Imam Al-Bukhari Rah
- Kisah Imam Syafi'i Rah
- Kisah Syeikh Maulana Ilyas
- Kisah Syeikh Muhammad Zakaria
- Jalan tobat sang rocker
- Kapolda Berdakwah Polisi dapat hidayah
- Kisah Cat Steven AKA
- Kisah HENGKI TORNANDO
- Anton Medan, Mantan Rampok & Bandar Judi yang Jadi Da'i
- Kisah Pentolan Grup Metal "Irvan Rotor"
- Sakti eks Gitaris So7 ganti nama Islami dan kembali bermusik
- Perjalanan Religi Sakti So7
Langganan:
Postingan (Atom)





